Jumat, 06 November 2015

Kalau Bukan Kita, Siapa Lagi? Semangat Terus!

Hai, selamat malam Sobat Budaya!
Masih dalam rangka mengikuti Blog Competition dengan tema "Sumpah Pemuda dan Budaya Indonesia" maka saya mengirimkan lagi satu artikel. Mudah-mudahan bisa menambah semangat para teman-teman sekalian yaa..
Di artikel saya sebelumnya, saya membahas makna Sumpah Pemuda dalam kaidah berbahasa Indonesia.
Ya, saya sebagai generasi muda Indonesia cukup prihatin dengan kaidah berbahasa anak muda Indonesia sekarang ini. Nah yang membuat saya prihatin lagi, banyak juga pemuda-pemudi Indonesia yang mencintai negara lain dibandingkan negara Indonesia sendiri.

Contoh nya adalah anak-anak muda Indonesia zaman sekarang lebih hafal nama-nama vokalis band dari luar negeri, dibandingkan hafal nama-nama pahlawan dari Indonesia. Dan anak-anak muda Indonesia lebih senang menempel bendera negara lain di kamarnya dibanding menempelkan bendera negara Indonesia. Dan tak hanya itu, anak-anak muda Indoenesia pun seakan malu untuk memakai batik jika bepergian keluar rumah. Waktu itu saya pernah bertemu dengan sekumpulan pekerja kantoran. Dan ada salah satu pekerja kantoran yang berkata kepada teman nya "Eh, ngapain sih lo pakai batik mulu? mau ke acara nikahan ya? gak usah formil banget lah." jadi mainset orang Indonesia itu adalah jika pakai batik keluar rumah maka dia mau datang ke acara nikahan. padahal yang sudah diketahui bersama bahwa batik adalah warisan budaya Indonesia, yang harusnya kita bangga memakai batik. 

Yang lebih miris lagi, aksi tawuran ini dilakukan oleh kalangan pelajar dan mahasiswa, yang notabene tulang punggung negeri ini. Tidak hanya terjadi di Jakarta, aksi tawuran ini juga terjadi di kota-kota lainnya di Indonesia. Masyarakat di mana pun sudah pasti gerah melihat aksi tawuran pelajar, mahasiswa, atau siapapun juga. Mahasiswa seharusnya memiliki intelektualitas yang tinggi sehingga tidak perlu menyelesaikan masalah dengan tawuran. Perilaku tawuran mereka itu sama saja berarti mereka mempelajarinya di bangku kuliah selain pengetahuan-pengetahuan yang lain. Entah apa yang menjadi pemicunya sehingga mereka bisa berbuat seperti itu? Jawabannya memang klise, hal ini akibat dari perkembangan jaman, dan perkembangan jaman itu juga berdampak pada perkembangan pola pikir.

Jadi jika memang mengakui berbangsa yang satu, bertanah air satu, dan berbahasa yang satu kita semua harus menjunjung tinggi ketiga isi dari sumpah pemuda tersebut. Kemajuan suatu negara akan dilihat dari para pemuda-pemudinya. Jadilah pemuda-pemudi yang tak hanya berwawasan luas, memiliki intelektualitas yang tinggi, tapi juga memiliki akhlak yang baik. karena banyak sekai kita melihat di berbagai media. baik media cetak maupun media massa. bahwa para pemuda yang tergelincir masuk kedalam "lembah hitam" narkoba. padahal prestasinya banyak.

Dan yang paling penting, jadilah para pemuda-pemudi yang tangguh. karena kebanyakan pemuda-pemudi Indonesia saat ini terkena "virus" galau di sosial media. baru putus cinta, update status galau. baru ditolak cinta, update status galau di facebook, bbm, dsb. Coba bayangkan, kalau pemuda Indoenesia sebelum kemerdekaan banyak yang galau seperti pemuda-pemudi sekarang? ya, sudah pasti kemerdekaan itu tidak pernah ada untuk Indonesia. Tapi karena pemuda-pemudi Indonesia dahulu pantang menyerah, memilki semangat yang tinggi, dan berdedikasi tinggi terhadap Indoenesia, maka sampailah kita menjadi negara yang merdeka seperti sekarang ini.


Semoga dua artikel yang saya tulis dalam rangka mengikuti Writing Competiton dari Sobat Budaya dan saya sangat senang karena telah diluncurkan sebuah aplikasi baru yakni "“Peta Lagu Tradisi Nusantara” yang dapat diunduh secara gratis baik di Play Store maupun di App Store dengan nama IndoMuse App. IndoMuse App, akan diluncurkan tepat pada Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2015. Sukses terus Sobat Budaya untuk Gerakan Sejuta Data Budaya nya! :)

Salam Semangat,


Rachmah Dewi


Selasa, 03 November 2015

Semangat Untuk Kemajuan Bangsa Para Generasi Muda Indonesia.



Hai selamat siang, Sobat Budaya dimanapun kalian berada. Senang sekali pada kesempatan kali ini, saya diberikan kesempatan untuk mengikuti Blog Competition dari Sobat Budaya yang bertemakan : “Sumpah Pemuda dan Budaya Indonesia”


Teman-teman sekalian, semuanya udah pada tahu 'kan Sumpah Pemuda itu jatuh pada tanggal berapa? Iya, betul sekali. Sumpah Pemuda jatuh pada setiap tanggal 28 oktober. Mungkin kita semua tahu tanggal berapa peringatan hari Sumpah Pemuda tapi kita semua sudah paham belum makna Sumpah Pemuda itu sendiri?


Nah mari kita kilas balik dulu, Peristiwa Sumpah Pemuda. Peristiwa sejarah Soempah Pemoeda atau Sumpah Pemuda merupakan suatu pengakuan dari Pemuda-Pemudi Indonesia yang mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa. Sumpah Pemuda dibacakan pada tanggal 28 Oktober 1928 hasil rumusan dari Kerapatan Pemoeda-Pemoedi atau Kongres Pemuda II Indonesia yang hingga kini setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda.

Kongres Pemuda II dilaksanakan tiga sesi di tiga tempat berbeda oleh organisasi Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) yang beranggotakan pelajar dari seluruh wilayah Indonesia. Kongres tersebut dihadiri oleh berbagai wakil organisasi kepemudaan yaitu Jong Java, Jong Batak, Jong, Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Jong Ambon, dsb serta pengamat dari pemuda tiong hoa seperti Kwee Thiam Hong, John Lauw Tjoan Hok, Oey Kay Siang dan Tjoi Djien Kwie.

Rumusan Sumpah Pemuda ditulis Moehammad Yamin pada sebuah kertas ketika Mr. Sunario, sebagai utusan kepanduan tengah berpidato pada sesi terakhir kongres. Sumpah tersebut awalnya dibacakan oleh Soegondo dan kemudian dijelaskan panjang-lebar oleh Yamin.

Isi Dari Sumpah Pemuda Hasil Kongres Pemuda Kedua adalah sebagai berikut :

PERTAMA : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Bertumpah Darah Yang Satu, Tanah Indonesia).

KEDOEA : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Berbangsa Yang Satu, Bangsa Indonesia).

KETIGA : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia)

 
Dalam peristiwa sumpah pemuda yang bersejarah tersebut diperdengarkan lagu kebangsaan Indonesia untuk yang pertama kali yang diciptakan oleh W.R. Soepratman. Lagu Indonesia Raya dipublikasikan pertama kali pada tahun 1928 pada media cetak surat kabar Sin Po dengan mencantumkan teks yang menegaskan bahwa lagu itu adalah lagu kebangsaan. Lagu itu sempat dilarang oleh pemerintah kolonial hindia belanda, namun para pemuda tetap terus menyanyikannya.
Nah itu tadi sekilas tentang Sumpah Pemuda ya teman-teman. Nah sekarang saya bertanya sama teman-teman pembaca sekalian juga tentunya bertanya kepada diri saya sendiri. “Sebagai Pemuda-Pemudi Indonesia sudahkah kita memberi kontribusi terbaik bagi kemajuan bangsa Indonesia?” saya pribadi akan mengatakan belum. Bagaimana dengan kalian?

Saya merasa masih banyak hal-hal yang harus “dibenahi” jika ingin membuat Indoenesia maju dengan para pemuda-pemudinya. Makna sumpah pemuda seharusnya benar-benar diresapi dan diamalkan pula oleh generasi muda jaman sekarang.  Sumpah Pemuda tidak lahir begitu saja, namun membutuhkan sejarah perjalanan panjang hingga akhirnya seluruh pemuda di Indonesia bertekad untuk mempersatukan dirinya dalam melawan penjajahan pada waktu itu. Mereka menyadari bahwa bercerai berai dan mudahnya diadu domba membuat mereka selalu terjajah oleh negara asing. Semangat persatuan dan nasionalisme para pemuda jaman dulu harus juga diikuti pemuda masa kini.

Kalau kita sebagai pemuda mengaku berbahasa yang satu, bahasa Indonesia tapi mengapa di zaman sekarang yang orang-orang bilang “Zaman Kekinian” banyak para pemuda-pemudi Indonesia yang seakan “malu”  untuk berbicara dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar? Seperti misalnya saja saya pernah mendengar, waktu itu saya lagi dijalan dan bertemu dengan anak-anak sekolah jumlahnya 5 orang. Kemudian salah satu dari anak sekolah tersebut bilang kepada temannya yang lain “Mari kita pulang sekarang, hari sudah petang. Nanti orangtua kita cemas kalau kita belum pulang.” Kemudian salah satu temannya ada yang berbicara “Yailah, bahasa lo baku banget sih? Petang? Cemas? Kaku banget! Jadul ih.” Nah ini yang membuat hati saya miris. Kenapa bahasa Indonesia yang memang benar menurut kaidah pengucapan tersebut dibilang “Kaku, Jadul (Jaman Dulu)” 

Contoh kecilnya bisa dilihat lagi percakapan anak-anak muda zaman sekarang di sosial media.  Sekarang anak-anak muda Indonesia, mengganti kata-kata yang ada dalam bahasa Indonesia dengan bahasa “gaul” kenapa dinamakan bahasa “gaul” ? ya, karena katanya kalau mengikuti kaidah bahasa “gaul” tersebut kita termasuk anak muda masa kini yang tidak ketinggalan zaman.

Contohnya pada kata, “ Serius”  diganti menjadi “Ciyus”. Kata “Benar” diganti menjadi kata “Enel” atau bisa kita lihat dalam satu kalimat dengan : “Ciyus? Miapah? Enelan?” yang maksud arti kata tersebut “Serius, Demi Apa? Beneran?” nah dari situ saja kita sudah bisa menilai kualitas berbahasa anak-anak muda Indonesia. 

Saya pun prihatin akan hal demikian karena sebagaimana yang kita ketahui nasib suatu bangsa turut dipengaruhi oleh anak-anak mudanya. Menyedihkan ketika para  Pemuda sebagai gerakan perjuangan dan pembaharuan penerus dimasa yang akan datang saat ini banyak terlibat pada kasus Tawuran, seks bebas, narkoba, alkohol, hingga perjudian. Sering kita lihat tayangan di TV para pelajar saling baku hantam antar sekolah, merasa paling jago dan sok berkuasa, kasus bullying dan premanisme di sekolah dan kampus, seringkali juga kita liat video mesum para pelajar.

Saya sebagai generasi muda penerus bangsa ingin sekali berkontribusi memajukan negeri ini. Kita pun jangan mau kalah dengan anak-anak muda dari Negara lain yang sejak umur belasan tahun mereka sudah bisa menciptakan alat teknologi yang menjadi asset kebanggaan negerinya. Saatnya bangsa ini bangkit dan menjadi bangsa yang besar, seperti cita-cita pendahulu bangsa. Saatnya kita bahu membahu membentuk generasi Emas, generasi yang kita buat dari mereka para pemuda-pemuda yang memiliki semangat, prestasi dan etos kerja tinggi.


Saya punya motto semoga para pemuda-pemudi Indonesia bisa terus semangat :

“Masih muda perbanyak karya, bukan malah bergalau ria di sosial media. Masih muda perbanyak prestasi, bukan menggalaukan diri dengan hal-hal yang tidak pasti.”

Saatnya kita semua menjadi generasi muda yang berprestasi untuk kemajuan negeri ini, negeri Indonesia tercinta! Semangat Gerakan Sejuta Data Budaya, para Sobat Budaya! :)


Salam sukses



Rachmah Dewi






Selasa, 20 Oktober 2015

Tertib Berkendara Bukti Cinta Kepada Keluarga #SafetyFirst



Tertib Berkendara Bukti Cinta Kepada Keluarga

Rini adalah seorang mahasiswi di salah satu perguruan tinggi negeri ternama di Indonesia. Sehari-harinya dia terkenal sebagai anak yang rajin dan patuh terhadap orangtuanya. Rini tinggal hanya bersama Ibu dan satu orang adiknya yang bernama Rani. Bapak nya Rini telah meninggal dunia. Ibu nya Rini adalah seorang pembantu rumah tangga. Pekerjaan sehari-harinya mencuci dan menyetrika baju di rumah tetangganya yang terkenal paling kaya di sekitar rumahnya. Karena Bapak Rini telah tiada, Rini kuliah sambil bekerja. Rini juga membiayai uang sekolah bagi adiknya yang bernama Rani. Biarpun Rini terhimpit oleh sulitnya keadaan ekonomi di keluarganya, tapi dia berusaha tetap ceria dan tegar, seolah hidup selalu membahagiakan dirinya. Selain menjadi pembantu rumah tangga, Ibunya juga berjualan kue. Kue cucur dan kue klepon adalah kue-kue yang menjadi favorit bagi pelanggan nya.  Terkadang, jika ibunya sudah kelelahan membuat kue untuk dijual, Rini dan Rani yang membuatnya. Mereka dengan tekun membuat kue. Karena mereka berdua adalah anak yang berbakti, maka ketika melihat ibu mereka sudah lelah bekerja, mereka berdua yang mengambil alih pekerjaan ibunya. Terkadang, Rini menjual kue buatan ibunya itu dikampusnya. Dan banyak sekali mahasiswa-mahasiswi yang menjadi peminat kue buatan Ibunya Rini. Setiap harinya, Rini selalu pergi ke kampusnya dengan naik angkot. Dan jika kondisi keuangan Rini lagi menipis alias dia tidak punya uang, Rini berjalan kaki ke kampusnya. Boleh dibilang, jarak tempuh antara rumah Rini ke kampusnya lumayan jauh. Tetapi demi meraih gelar sarjana, demi meraih sebuah kesuksesan, Rini tetap giat ke kampus untuk mengikuti perkuliahan. Kadang Rini malu kepada dirinya sendiri, yang tidak mempunyai handphone bagus seperti teman-teman sebayanya. Pernah waktu itu, teman sebayanya bilang “Rin, kamu gak mau beli handphone yang bagus? Sekarang ‘tuh ya kalo mau jualan apapun mending pakai handphone, kamu jual secara online. Lha, ini kamu jualan kue keliling kampus gitu. Kuno banget sih kamu!” mendengar perkataan temannya, Rini tidak menanggapinya. Ia hanya tersenyum saja. Pernah terbersit dalam pikirannya kalau ada benarnya juga perkataan teman-teman nya selama ini padanya, bahwa ia harus membeli handphone yang bagus untuk kepentingan jualannya juga. Karena sekarang zaman digital, yang dimana orang-orang membeli makanan atau barang secara online. Atau dengan menggunakan aplikasi ojek online, yang memungkinkan pembeli memesan makanan secara diantar oleh driver ojek online. Tapi, sejenak Rini mengurungkan niatnya untuk membeli handphone baru. Karena, baginya uang hasil berjualan kue bukan untuk dirinya seorang. Masih ada Ibu dan adiknya dirumah. Dan biaya adiknya sekolah juga menjadi tanggung jawab Rini. Rini berpikir lebih baik uangnya ditabung saja daripada membeli handphone baru, karena menurutnya handphone nya saat ini masih bisa dipergunakan. Sebenarnya ada keahlian Rini yang orang-orang disekitarnya tidak menyadarinya. Keahliannya tersebut adalah menggambar. Teman dekat Rini pernah bilang : “Rin gambar kamu bagus, coba diasah saja dengan mengikuti perlombaan. Karena jujur, memang aku lihat gambarmu bagus. Tekuni saja keahlian menggambarmu itu.” Rini pun menjawab : “Yah, aku mah apa atuh hanya bisa menggambar sederhana saja. Ini juga cuma iseng-iseng saja. Tadinya aku berniat ingin kuliah menambil jurusan desain grafis, tapi aku sadar, kuliah desain grafis memerlukan biaya yang tidak sedikit. Bahkan pada saat skripsi pun banyak sekali biaya yang dikeluarkan nanti. Karena kuliah desain grafis memerlukan peralatan menggambar yang mahal. Perlu laptop atau printer yang bagus. Sedangkan aku, mengerjakan tugas saja harus ke warnet atau terkadang pinjam laptop tetangga. Jadi aku nurut saja apa kata ibuku. Ibuku bilang, aku disuruh kuliah yang bisa langsung kerja, yang jurusan nya tidak memerlukan biaya banyak.” Walaupun keadaan ekonomi yang menghimpit, keadaan uang yang pas-pasan, Rini tidak mengeluh menjalaninya. Baginya, orang sukses tidak dihasilkan melalui kenyamanan, kemudahan, atau kesenangan. Tetapi orang sukses itu biasanya dihasilkan melalui tantangan, kesulitan, dan air mata. Tak lupa sebagai seorang yang beragama islam, disetiap penghujung malam, Rini selalu bangun untuk menunaikan sholat Tahajjud. Dalam setiap sholat tahajjudnya, air matanya turun deras sampai menetes ke sajadahnya. Rini mendoakan agar selalu diberikan jalan kemudahan bagi dirinya, ibunya, maupun adiknya.
Hari ini, Rini berangkat ke kampus, lebih pagi dari biasanya. Karena ada ujian tengah smester yang akan diikuti. Rini berpamitan kepada Ibunya dan berkata “Bu, tolong doain Rini ya Bu. Semoga nanti bisa mengikuti ujian tengah smester dengan baik dan juga jualan kuenya hari ini laris ya, Bu.” Kemudian Ibunya Rini berkata “Iya, Nak. Ibu selalu doain kamu, semoga nilai kamu selalu bagus di kampus ya dan kue jualan nya hari ini laris manis. Semangat ya, Nak. Jangan lupa berdoa.”
Rini pergi ke kampus hari ini tidak menggunakan angkot, Rini memilih berjalan kaki saja. Karena menurutnya hari ini masih terlalu pagi, dia masih mau menghirup udara pagi. Ditengah perjalanan ke kampus, Rini ditabrak oleh pengendara sepeda motor. Sepeda motor melaju dengan lumayan kencang. Dan untungnya nyawa Rini masih bisa tertolong. Rini hanya luka dibagian lutut saja. Kemudian pengendara sepeda motor itu segera meminta maaf kepada Rini “Mbak maafkan saya ya, Mbak. Mbak ada yang luka gak? Mau saya antar ke dokter? Maafkan saya mbak, karena saya harus buru-buru ke kantor.” Ternyata yang menabrak Rini adalah seorang lelaki setengah baya. Terlihat rambutnya yang sudah ada sedikit uban. Sosoknya penuh dengan sifat kebapakan. Rini jadi teringat akan almarhum ayahnya. “Tidak apa-apa, Pak. Saya hanya luka sedikit dibagian lutut. Masih bisa jalan kok, Pak. Dipakai berjalan juga masih sanggup. Nanti saya beli plester aja di apotek dekat  kampus, Pak.” Kata Rini kepada Bapak itu. Kemudian bapak itu berkata lagi kepada Rini “Oh adik masih kuliah, namanya siapa dik? Saya Santoso. Saya antar ke kampus adik saja bagaimana? Sebagai tanda permintaan maaf saya kepada adik.” Rini pun berkata “Tidak  usah, Pak. Nanti merepotkan bapak yang hendak ke kantor.” “saya tidak repot kok, dik. Anggap saja ini sebagai permintaan maaf saya.” Kata bapak Santoso. “Baik pak kalau begitu, kebetulan jarak kampus saya tidak jauh. Sebentar lagi juga sampai, Pak.” Akhirnya Rini diantar ke kampus oleh Bapak Santoso tersebut. Ditengah perjalanan Rini menyampaikan sesuatu kepada Bapak Santoso. “Pak, lain kali bapak hati-hati ya, Pak mengendarai sepeda motornya. Saya jadi ingat akan almarhum Bapak saya yang meninggal dalam kecelakaan gara-gara mengendarai sepeda motor, saya menyesal Pak waktu itu tidak menyuruh Bapak saya pakai helm waktu kecelakaan maut itu terjadi. Karena Bapak saya juga orangnya memang agak tidak mau pakai helm. Karena jarak dari rumah ke kantor bapak saya yang lumayan dekat, beliau jarang mau kalau disuruh pakai helm. Sampai akhirnya, ketika Bapak saya tengah dalam kondisi tidak pakai helm dan dengan jalan ngebut ke kantor, tiba-tiba Bapak saya menabrak sebuah mobil box, hingga nyawa Bapak saya tidak tertolong lagi” Kemudian bapak Santoso berkata pada Rini “Oh, Bapaknya adik sudah meninggal ya? Innalillahi. Saya turut berduka cita ya, dik.” “sudah lama kok pak, Bapak saya pergi meninggalkan saya dan keluarga saya. Sudah 10 tahun yang lalu, Pak.” Kata Rini. “Maaf dik, saya tidak bermaksud membuat adik sedih. Maafkan Bapak ya. Lain kali Bapak akan lebih berhati-hati dalam mengendarai sepeda motor. Tadi Bapak memang buru-buru karena harus tiba di kantor pagi. Makanya Bapak mengendari motor dengan kecepatan tinggi. Terimakasih ya dik, sudah mengingatkan Bapak. Oh iya dik, kamu jurusan apa kuliahnya? Di kantor Bapak kebetulan lagi ada job untuk magang tapi bagi mahasiwa/mahasiswi yang pintar desain grafis. Kamu jurusan apa dik?” kemudian Rini menjawab “saya jurusan manajemen, Pak. Tapi saya sedikit-sedikit punya keahlian menggambar. Menggambar adalah hobby saya sejak kecil, Pak.” “Wah, baiklah saya boleh liat gambarnya adik? Nanti kirim email ke saya aja contoh gambarnya. Soalnya kantor saya memang lagi perlu tenaga untuk magang dik. Barangkali adik adalah salah satu kandidat yang cocok dengan kami. adik sekarang smester berapa ya?” Rini menjawab “saya smester 7 Pak. Kebetulan sedikit-sedikit sedang mengerjakan skripsi. Karena saya janji kepada ibu saya, bahwa saya mau lulus kuliah tepat waktu yakni 3,5 tahun. Saya gak mau menunda-nunda dan menyia-nyiakan kesempatan. Karena saya juga ingin segera bekerja membantu perekonomian keluarga, Pak.” Baiklah dik, Rini. Saya tunggu kiriman contoh gambar adik ke email saya ya.” Kata Bapak Santoso. “Baik, Pak. Nanti saya kirimkan setelah pulang kuliah ya pak. Terimakasih atas tawaran Bapak. Sekali lagi, hati-hati dalam mengendarai sepeda motor ya, Pak.”
Setelah jam kuliah usai, Rini pulang kerumahnya dan menceritakan kepada Ibu nya kejadian yang baru dialami olehnya. Kejadian kecelakaan yang membuat lututnya memar sedikit. Ibu Rini sempat kaget mendengar cerita yang dialami oleh putrinya tersebut. “Ya ampun, Nak. Kok bisa kejadian seperti itu. Ibu khawatir kamu kenapa-kenapa. Kita ke dokter yuk, Nak.” Rini menjawab “tidak perlu ke dokter, Bu. Tadi Rini sudah memakai plester anti luka yang Rini beli di apotek dekat kampus. Insya Allah gak kenapa-kenapa kok, Bu.” “Lain kali lebih berhati-hati ya, Nak kalau berjalan kaki. Jangan lupa selalu berdoa.” Kata ibu. “Oh iya, Bu. Rini diminta mengirim contoh hasil gambar Rini kepada Pak Santoso. Bapak yang tadi tabrakan sepeda motor dengan Rini. Bapak Santoso bilang bahwa, di kantornya sedang memerlukan tenaga untuk magang di bagian desain grafis. Rini ingin coba, Bu. Kalau misalnya keterima uangnya lumayan untuk nambah-nambah keperluan biaya skripsi Rini.” Kata Rini kepada Ibunya dengan antusias. “Tapi ‘kan, Nak. Kamu kan kuliahnya bukan jurusan desain. Kamu kan kuliahnya jurusan manajemen? Memang bisa?” kata Ibu nya Rini dengan sedikit heran. “Ya kita lihat nanti saja, Bu. Apakah Rini keterima atau tidak. Ya Rini kan menggambar hanya sebagai hobby saja. Jika tidak keterima ya memang bukan rezeki ku, Bu. Aku percaya rezeki itu sudah diatur. Sudah tertakar dan tidak akan mungkin tertukar.”
Akhirnya selang 2 hari setelah Rini mengirim CV beserta portofolio gambar nya ke kantor Bapak Santoso, Rini dipanggil interview di kantor Bapak Santoso. Rini sempat tidak menyangka bahwa CV dan portofolio gambarnya lolos kualifikasi. Karena kantor Pak Santoso termasuk salah satu kantor prestige di Indonesia. Akhirnya esok harinya, Rini datang ke kantor Bapak Santoso di kawasan Sudirman, Jakarta. Rini senang bukan main, karena portofolio gambarnya lolos kualifikasi. “Selamat, Rini kamu bisa mulai bekerja nya kapan ya?” kata Bapak Rifki yang menjadi kepala personalia di kantor tersebut. “Saya mungkin bisa mulai awal bulan, Pak.” Kata Rini dengan wajah masih setengah tidak percaya karena dia diterima bekerja magang di kantor itu.
Meskipun Rini sudah bekerja di kantor bapak Santoso, Rini juga tetap fokus pada kegiatan kuliahnya. Nilai-nilainya pun masih konsisten bagus. Dan Indeks Prestasi Kumulatif Rini juga selalu diatas 3. Rini pun juga masih berjualan kue tradisional seperti dulu. Kue favorit orang-orang masih sama yaitu kue cucur dan kue klepon. Di kantor tempat ia magang, Rini masih tetap berjualan kue. Kemudian di sela jam kantor, Bapak Santoso mengajak Rini makan siang bersama di kantin kantor. “Bapak bangga dik, sama kamu. Zaman sekarang masih ada saja anak muda seperti kamu yang tidak malu berjualan kue tradisional bahkan sampai dibawa ke kantor dan ke kampusmu. Anak bapak saja yang seumuran denganmu akan malu jika disuruh jualan kue sepertimu.” “ah, bapak bisa saja. Saya sampai kapanpun tidak akan malu untuk berjualan, Pak. Karena bagi saya berjualan adalah salah satu mencari rezeki yang halal Pak. Saya tidak ingin melihat ibu dan adik saya kekurangan. Apalagi setelah ditinggal Bapak meninggal, saya menjadi tumpuan ibu dan adik saya. Karena gaji ibu saya sebagai pembantu rumah tangga tidak seberapa, Pak. Saya juga masih punya satu adik yang harus saya biayai sekolahnya sampai sarjana.” Kata Rini. “Wah bapak kagum sekali dengan semangatmu, dik Rini. Bapak doakan kamu segera menjadi anak yang sukses ya dan bisa membahagiakan orangtuamu. Oh, iya Rin. Bapak dapat masukan dari staff personalia bahwa, kerja kamu dalam masa magang ini bagus. Kalau kamu bisa konsisten bagus terus, kamu bisa diangkat menjadi karyawan tetap di kantor ini. Semoga Indeks Prestasi kamu konsisten bagus ya sampai wisuda. Bapak doakan.” Rini pun tersenyum dan berkata “Terimakasih, Pak. Doakan saya semoga saya bisa terus konsisten meraih nilai yang bagus di masa kuliah saya ini.”
Tiba saatnya Rini wisuda, dan Rini dinobatkan sebagai lulusan terbaik di kampusnya. Bukan main bangganya hati Ibu Rini. Ibu Rini menangis terharu karena bangga anaknya bisa menjadi lulusan terbaik di kampusnya. “Bu, maafkan Rini ya, Bu. Jika selama ini Rini sudah merepotkan ibu dengan berbagai macam biaya yang banyak saat Rini kuliah. Rini janji, Bu. Sekarang saatnya Rini yang balas pengorbanan ibu, walau Rini gak akan bisa membalas semua pengorbanan dan kebaikan ibu kepada Rini, tapi Rini akan terus berusaha buat ibu senang, buat ibu bangga, buat adik bahagia. Dan Rani harus bisa sekolah tinggi sampai sarjana seperti Rini ya, Bu.” Kata Rini disela-sela prosesi wisuda. Rini pun berderai air mata haru saat berbicara sambil mencium tangan ibunya. “Ibu selalu mendoakan yang terbaik untuk Rini. Tetap jadi orang yang rendah hati ya, Nak jika sudah menjadi orang yang hebat. Sudah mendapat karir yang cemerlang.”
Tepat sebulan setelah prosesi wisuda, akhirnya Rini diangkat menjadi karyawan tetap di kantor Bapak Santoso, tempat ia bekerja magang dulu. Dalam hati, Rini tak henti-hentinya bersyukur kepada Tuhan, Allah SWT karena telah memberikan begitu banyak rezeki. Rezeki yang tak terduga-duga. Rini di kantor tersebut menjadi staff digital marketing. Karena ilmu marketing nya yang didapat di bangku kuliah juga sangat baik dan dikombinasikan dengan keahlian desain grafis yang dia miliki. Rini juga menjadi karyawan teladan di kantornya tersebut. Rini teringat akan pesan ibu nya sewaktu masih kuliah dulu “Nak, jadilah orang baik. Karena, jika kita baik, rezeki yang baik, teman yang baik, bahkan jodoh yang baik juga akan menghampiri.” Dan setelah 6 bulan bekerja di kantornya, Rini mendapat project untuk membuat campaign akan pentingnya untuk menjaga keselamatan bagi pengendara motor. Tema nya adalah “Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.” Rini membantu untuk memberikan ide desain, memberikan strategi untuk berpromosi lewat sosial media. Dan tanggapan masyarakat pun sangat bagus dan antusias menyambut ajakan untuk “Tertib, Aman dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.”
Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.


Penulis : Rachmah Dewi